Tampilkan postingan dengan label Arkeologi Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi Kristen. Tampilkan semua postingan

4/07/2015

Inikah Rumah Yesus Kristus dari Nazareth?


Di mana Yesus tinggal di kampung halamannya dahulu? Apakah kini rumah tempat tinggalnya masih berdiri di Nazareth? Lewat penggalian bertahun-tahun, arkeolog percaya bahwa mereka telah menemukan rumah yang diduga kuat merupakan tempat tinggal Yesus pada masa kecilnya dahulu.

Rumah itu berbahan batu kapur, dibuat dengan memotong batu dari sebuah bukit, terdiri dari beberapa ruangan. Satu lorong yang berfungsi sebagai pintu hingga kini masih terawetkan. Rumah terdiri dari sejumlah ruangan. Ada pula tangga. Di dekat rumah terdapat dua batu nisan. 

Rumah itu sebenarnya sudah ditemukan pertama kali tahun 1880-an oleh seorang biarawati dari Kesusteran Nazareth. Namun, baru pada tahun 2006, arkeolog dari University of Reading di Inggris, Ken Dark, mengidentifikasi rumah itu berasal dari masa Yesus.

"Apakah ini merupakan rumah tempat Yesus tumbuh besar, sulit untuk mengatakannya berdasarkan bukti arkeologis. Namun, di sisi lain, tak ada bukti arkeologis yang cukup kuat juga sehingga pandangan macam itu bisa diabaikan," tulis Dark di Biblical Arcaeology Review edisi Maret/April 2015 seperti dikutipLivescience, Senin (2/3/2015).

Ada beberapa hal yang membuat rumah tersebut diduga merupakan milik Yesus. Di dalam reruntuhan, terdapat bejana berbahan batu kapur. Hal itu menjadi petunjuk bahwa rumah itu milik keluarga Yahudi. Keluarga Yesus juga seorang Yahudi sehingga ada kemungkinan rumah itu miliknya.

Petunjuk lain, menurut penelitian, seabad setelah Yesus wafat, Kerajaan Byzantine yang menguasai Nazareth hingga abad ketujuh mendekorasi rumah tersebut dan mengembangkannya menjadi gereja. Rumah itu dilindungi sehingga bisa tetap berdiri tegak, selain dipakai sebagai tempat ziarah.

Gereja di dekat rumah itu sempat rusak pada abad kedelapan. Namun, kaum Crusader memperbaikinya dan menggunakannya lagi sebagai tempat ibadah. Sayang, pada abad ke-13, gereja yang bernama Church of Nutrition itu kembali hancur setelah dibakar. Kata Dark, fakta bahwa Byzantine dan Crusader melestarikan rumah dan gereja menunjukkan bahwa keduanya spesial.

Referensi lain yang menguatkan dugaan bahwa rumah tersebut milik Yesus adalah teks yang ditulis pada tahun 670 oleh seorang biara dari Iona bernama Abdomnan. Dalam tulisannya yang berbasis pada pengalaman biara lain bernama Arculf, menuliskan "gereja di mana pernah terdapat rumah tempat Tuhan dibesarkan pada masa kecilnya."

Mengonfirmasi bahwa rumah itu memang milik Yesus memang sulit. Namun, sejauh ini peninggalan rumah dari masa Nazareth kuno yang ditemukan hanya dua. Satu lagi ditemukan pada tahun 2009, tetapi tak dipertimbangkan sebagai rumah Yesus. Peninggalan Nazareth lain hanya berupa makam.

Selain menemukan rumah yang diduga milik Yesus itu lewat penggalian, Dark dan timnya juga menemukan dua makam. Satu makam diduga milik Yosep, ayah Yesus. Dia juga menemukan bahwa Nazareth saat itu terpecah menjadi dua, ada yang yang patuh pada budaya Romawi dan ada pula yang menolaknya.
Read more

Apakah Benar Yesus Kristus Berkulit Putih?

Seperti apa Yesus sebenarnya? Apakah dia sosok berkulit putih, berambut gondrong, dan berjenggot seperti yang biasa digambarkan?

Di Amerika Serikat, pertanyaan ini mengemuka kembali setelah seorang penyiar televisi Foxnews, Megyn Kelly, yang mengklaim bahwa Yesus berkulit putih.

Kelly dan narasumbernya tengah mendiskusikan artikel diSlate.com yang menyatakan bahwa Sinterklas seharusnya digambarkan seperti penguin untuk mencegah nuansa rasialisme.

Saat itu Kelly mengatakan bahwa hanya karena ada yang merasa tak nyaman, bukan berarti wujud Sinterklas harus diganti. Toh, bukan hanya Sinterklas yang berkulit putih.

"Yesus juga seorang kulit putih. Itu kita miliki, dia seorang tokoh sejarah. Itu fakta yang bisa diverifikasi, seperti Santa, saya hanya ingin anak-anak tahu itu. Bagaimana Anda merevisi sesuatu yang diyakini dan mengubah wujud santa dari putih menjadi hitam?" katanya seperti dikutip IB Times, Kamis (12/12/2013).

Komentar Kelly memicu kritik dan pertanyaan tentang sosok Yesus. 

Hingga saat ini, meski diyakini bahwa sosok Yesus adalah nyata ada, tak ada hasil penelitian yang berhasil mengonfirmasi bahwa Yesus memang seorang berkulit putih dan sebaliknya. 

Selama ini, penganut Kristiani cenderung menggambarkan sosok Yesus sesuai dengan ras atau sukunya. Sosok Yesus yang berkulit putih sendiri merupakan sosok umum yang awalnya digambarkan oleh orang Eropa dan Amerika. Selain itu, ada sosok Yesus yang berwujud Asia, bahkan berkulit hitam.

Yesus adalah seorang pria Yahudi yang hidup di wilayah yang kini Israel. Dengan demikian, para sejarawan cenderung percaya bahwa sosok Yesus mirip seorang pria Timur Tengah saat ini.

Pada tahun 2001, sebuah penelitian yang dilakukan dengan menganalisis tulang tengkorak seorang pria Yahudi membuahkan model hipotesis wajah Yesus, yakni juru selamat itu memiliki kulit warna kuning langsat, bermata gelap, dan berambut hitam.

Edward J Blum, sejarawan ras dan agama dari San Diego State University, mengatakan, "Yesus jelas bukan seorang berkulit putih."

Kulit Yesus juga bukan hitam, melainkan agak kecoklatan.

Blum mengatakan bahwa ras Yesus memang tidak disadari oleh para penulis Injil. Ras dan penampilan Yesus tidak penting bagi mereka
Read more

Menyibak Misteri Pohon Zaitun Tempat Yesus Kristus Berdoa

Pohon zaitun yang dipercaya merupakan anakan dari pohon zaitun yang hidup di Taman Getsemani, Jerusalem, Israel, saat Yesus berdoa sebelum disalib tetap kokoh berdiri meski sudah berusia 900 tahun.

Untuk mempelajari asal-muasalnya, studi dilakukan tim dari National Research Council Italia bersama berbagai perguruan tinggi Italia selama tiga tahun. Tim menyelidiki delapan pohon zaitun yang berlekuk-lekuk kasar di Taman Getsemani, yang salah satunya menjadi situs suci bagi umat Kristen.

Dari delapan pohon zaitun, tiga di antaranya diperkirakan ada sejak pertengahan abad ke-12. Akar yang di dalam tanah tentunya diperkirakan berusia lebih tua lagi. "Zaitun ini menjadi salah satu pohon berdaun yang tertua di dunia. Tanaman dengan usia yang lebih tua belum pernah dilaporkan dalam literatur ilmiah," kata ketua tim penelitian, Antonio Cimato, dari CNR Tree and Timber Institute di Florence.

Berdasarkan penanggalan karbon, pohon-pohon ini berasal dari tahun 1092, 1166, dan 1198. Periode saat Tentara Salib terlibat dalam rekonstruksi gereja secara besar-besaran di Tanah Suci yang kemudian dibangun kembali menjadi Basilica of Gethsemane di Jerusalem.

Tim peneliti juga mengungkapkan adanya kemungkinan taman zaitun pernah mengalami penyusunan ulang dan direnovasi selama rekonstruksi gereja dilakukan. Bukannya tidak mungkin hal ini dapat terjadi karena pohon zaitun dapat tumbuh kembali meskipun telah ditebang, bahkan dibakar sekalipun.

DNA dari delapan pohon mengungkapkan bahwa semuanya saling berkaitan ke satu pohon yang usianya lebih tua. "Dari delapan pohon zaitun, semuanya memiliki profil genetik yang serupa. Ini artinya mereka merupakan zaitun kembar. Semua anak-anak mereka dari satu spesimen," kata Cimato.

Fakta tersebut memunculkan pertanyaan, apakah parental dari delapan pohon zaitun tersebut adalah pohon yang menjadi tempat Yesus berdoa di Taman Getsemani hingga berkeringat darah sebelum disalib seperti yang dideskripsikan dalam Injil Lukas?

"Menemukan pohon aslinya (parental) tidak mungkin," kata Climato.

Satu hal lain yang mengagumkan, meskipun telah mencapai 900 tahun, pohon zaitun ini tetap sehat dan berkembang tanpa terkontaminasi polusi dan bakteri. Tanaman ini juga mampu menghalau serangga dan proliferasi bakteri. "Saya menyebut fenomena ini sebagai sebuah keajaiban kecil," ungkap Cimato.
Read more

Ditemukan Rumah Imam Yahudi Zaman Yesus Kristus


Para arkeolog menemukan sisa-sisa bangunan rumah berusia kira-kira 2.000 tahun di kawasan gunung Zion, Yerusalem, yang diharapkan dapat menjelaskan kehidupan orang-orang kaya di zaman Yesus Kristus.

Temuan artefak dan petunjuk lain menunjukkan bahwa rumah tersebut milik keluarga kaya Yahudi selama periode awal pendudukan kekaisaran Romawi, kata para peneliti.

Seperti diberitakan situs Livescience, di dalam reruntuhan bangunan yang terletak di dekat situs terkenal kerajaan Herodes, tim arkeolog menemukan ruangan kamar mandi dan cangkang siput laut yang digunakan untuk membuat cairan pewarna.

Jika reruntuhan rumah ini merupakan kediaman orang kaya Yahudi pada abad pertama, bukan hanya dapat menjelaskan bagaimana kehidupan kaum kaya saat itu, tetapi juga dapat menjelaskan sosok Yesus itu sendiri.

"Jika reruntuhan rumah ini merupakan kediaman orang kaya Yahudi pada abad pertama, bukan hanya dapat menjelaskan bagaimana kehidupan kaum kaya saat itu, tetapi juga dapat menjelaskan sosok Yesus itu sendiri," kata James Tabor, pimpinan tim penggalian, dalam sebuah pernyataan.

Menurut Tabor, yang merupakan ahli sejarah Kristen awal, "Yesus mengkritik gaya hidup kelas elit ini. Dia berbicara tentang pakaian, jubah panjang dan perhiasan mereka, dan mengolok-oloknya. Jadi, kita mendapatkan informasi tambahan, sehingga lebih bisa memahami seperti apa kehidupan orang kaya saat itu."

James Tabor menambahkan, temuan arkeologis ini dapat memperkaya pengetahuan tentang kehidupan kelas elit Yerusalem, yang selama ini hanya diperoleh dari Alkitab serta teks-teks yang ditulis oleh pemuka agama Yahudi.

Tidak jauh dari situs arkeologi kamar mandi itu, tim peneliti sebelumnya menemukan reruntuhan kolam yang dulu diduga digunakan untuk ritual pembersihan.

Milik para imam Yahudi

Reruntuhan se-tua 2.000 tahun ini dipercaya mampu menjelaskan kaum elit masa Yesus.

Para ahli mengatakan, penemuan sisa-sisa bangunan kamar mandi dan kolam tersebut, membuktikan bahwa bangunan itu kemungkinan milik kaum elit kaya dan para imam Yahudi.

"Saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa orang-orang yang membuat kamar mandi, mungkin saja merupakan orang yang sama yang membuat kolam tersebut," kata arkeolog Shimon Gibson.

Temuan penting lainnya adalah berupa cangkang siput laut yang digunakan untuk membuat cairan pewarna. Ini merupakan sumber pewarna ungu yang dikenal sangat berharga dan mahal saat itu.

Para peneliti berspekulasi bahwa para imam Yahudi saat itu kemungkinan ikut terlibat dalam industri pemasok cangkang siput laut untuk mewarnai pakaian milik orang kaya di Yerusalem, di zaman tersebut.

Tim arkeolog mengharapkan, penelitian ini akan dilanjutkan pada 2014 dan 2015 nanti. Setelah proses penelitian berakhir, masyarakat dapat melihat langsung situs bersejarah yang diperkirakan berusia 2.000 tahun itu.
Read more

Arkeolog: Tempat Lahir Yesus Bukan Di Bethlehem

Selama ini, umat Kristen sejagat raya meyakini Yesus Kristus lahir di Kota Bethlehem, Tepi Barat, Palestina. Namun, para arkeologi menyatakan kota kelahiran Yesus sebenarnya adalah di Kota Betlehem, Galilea, sebuah wilayah di Utara wilayah pendudukan Israel, bukan Kota Betlehem, Tepi Barat.

Arkeolog Israel, Aviram Oshri menyatakan umat Nasrani se dunia selama ini salah mengira tempat kelahiran Yesus.

"Pada masa Yesus hidup, Kota Bethlehem di Galilea dihuni kaum Yahudi. Tak ada bukti di awal abad Masehi Bethlehem di Tepi Barat dihuni penduduk," kara Oshri seperti disadur dari Telegraph.co.uk, Rabu (26/12).

Oshri menjelaskan, saat masih bekerja sebagai arkeolog di awal 1990-an, ia mengaku harus menggali dan menyelamatkan beberapa proyek pembangunan di sebuah desa di Galilea.

"Ketika aku bekerja, beberapa penduduk sekitar lokasi mengatakan Yesus lahir di sana, bukan di selatan," selorohnya.

Saking penasarannya, Oshri mengaku akhirnya meneliti bukti-bukti arkelogis di sana. Saat itu Oshri menemukan bukti ritual pemurnian kaum Yahudi terjadi di Bethlehem, Galilea ketika Yesus masih hidup.

Daerah itu berada delapan kilometer dari Kota Nazareth, tempat tinggal Yesus di masa kecil.

"Jika sejarah Yesus yang benar-benar lahir di Betlehem, kemungkinan besar Bethlehem Galilea, tidak di Tepi Barat."

Sayangnya, tempat lahir Yesus diyakini para arkeologi sudah dihancurkan untuk mendirikan bangunan modern.
Read more

Peninggalan Bersejarah Kristus Ditemukan

241204aLnKendi.jpg

Para arkeolog Israel, baru-baru ini, menemukan pecahan kendi bersejarah di Kota Kana, terletak antara Kota Nazareth dan Kapernaum, Tepi Barat. Pecahan bejana batu itu diduga berasal dari wadah yang sama dengan yang tercatat dalam Kitab Yohanes.

Diriwayatkan, saat mengadakan perjalanan melintasi Galilia, Yesus melakukan keajaiban pertamanya dalam sebuah pesta pernikahan di Desa Kana yang miskin. Disana, dia mengubah air minum dalam kendi yang hendak disajikan kepada para tamu menjadi anggur. Pesta di Kana itu adalah saat-saat awal pengajaran Yesus ketika ia memilih murid-murid pertamanya.

Ketua Para Arkeolog Yardena Alexader mengaku yakin kepingan bejana berukuran 30 hingga 40 sentimeter itu adalah petunjuk jejak sejarah yang ditinggalkan Yesus Kristus. Pecahan bejana batu itu ditemukan di sebuah rumah yang sebelumnya pernah menjadi tempat penggalian arkeologi.

Alexander dan para arkeolog lainnya telah melakukan penggalian di Kota Kana modern sejak 1999. Dia yakin, Kana modern dibangun di lokasi dekat sebuah desa miskin kuno yang juga bernama Kana seperti yang dikisahkan Alkitab. Hipotesa para arkeolog ini juga dikuatkan dengan penemuan sebuah tempat mandi ritual yang berarti sebuah keluarga Yahudi pernah tinggal di sana. Sejumlah barang tembikar lokal lainnya juga ditemukan di sana sehingga para arkeolog itu yakin bahwa tempat itu adalah Desa Kana yang dimaksud Alkitab.

Sebuah lokasi arkeologi yang berkaitan dengan sejarah Kristus juga ditemukan di Yerusalem. Otoritas purbakala Israel menyatakan, para arkeolog di Yerusalem menemukan sebuah area yang rata dan saluran air yang diyakini menjadi lokasi sebuah kolam. Selain itu, para arkeolog juga menemukan sebuah tangga luas yang menuju ke kolam tersebut.

Para arkeolog juga menemukan sejumlah koin di bagian yang diyakini sebagai dasar kolam. Salah satu koin diyakini berasal dari pertengahan abad sebelum yesus lahir. Berdasarkan penelitian perkiraan usia koin itu, kolam itu diyakini sebagai lokasi Kolam Siloam. Menurut Kitab Yohanes di Alkitab, Kolam Siloam adalah tempat Kristus membuktikan mukjizatnya dengan menyembuhkan mata orang yang buta sejak lahir.

Penemuan lokasi ini membuat para arkeolog mempunyai gambaran yang lebih baik mengenai keadaan Kolam Siloam, 2.000 tahun lampau. Kolam itu diyakini lebih sebagai lokasi ritual pencelupan, bukan hanya tempat pemandian atau penampungan air biasa. Kolam Siloam telah menjadi fokus penelitian sejak abad 19. Selain itu, kisah kolam itu juga disebutkan dalam sumber-sumber sejarah Yahudi sebagai tempat yang airnya dianggap murni untuk keperluan upacara ritual. Lokasi Kolam Siloam ini berada di dekat tembok kota tua Yerusalem dan airnya diduga berasal dari mata air di Gihon.
Read more

Peneliti: Yesus Kristus Tidak Disalib Dengan Tangan Merentang

Peneliti: Yesus tidak disalib dengan tangan merentang

Menjadi salah satu artikel dengan pro dan kontra hebat di tahun 2014 karena ada penelitian yang menyebutkan bahwa Yesus disalib dengan tangan di atas kepala.

Para peneliti dari Liverpool John Moores University dan University of Pavia, Italia, mengungkapkan hasil penelitian mereka setelah mempelajari salah satu benda misterius dan langka yaitu Kain kafan Turin.

Menurut klaim yang mereka angkat, Yesus yang selama ini dipercaya disalib dengan tangan merentang (seperti huruf T) ternyata adalah salah karena sesuai apa yang mereka pelajari dari kain kafan Turin itu, Yesus disalib dengan tangan di atas kepala atau juga tergantung membentuk huruf Y.


Dalam penelitiannya, para ilmuwan menjelaskan bahwa di Kain Kafan Turin yang diperkirakan berusia 728 tahun dan terdapat bekas seseorang yang diperkirakan adalah sosok Yesus itu tercetak jelas bahwa di bagian tangan dan lengannya ada bercak darah yang mengalir.

Secara logika, apabila tangan Yesus dipaku dengan membentuk huruf Y, maka darah akan mengucur melewati kedua lengannya sampai ke bawah, sedangkan apabila disalib membentuk huruf T maka darah yang keluar hanya akan ada di sekitar pergelangan tangannya saja.

Untuk menelitinya, para ilmuwan menindaklanjuti penelitian yang dilakukan oleh para pakar dari University of Oxford pada tahun 1998 dengan menggunakan radiokarbon.

Dikutip dari Daily Mail (03/04), Matteo Borrini di Liverpool John Moores University menjelaskan bahwa penyiksaan memaku kedua lengan berada di atas kepala atau seperti huruf Y itu merupakan posisi yang yang sering dilakukan untuk menyiksa seseorang di pertengahan.

"Eksekusi dengan posisi seperti ini sangat menyakitkan dan akan membuat korbannya kesulitan bernafas," jelas Borrini.

Posisi menggantung korban seperti huruf Y tersebut akan meningkatkan kesulitan bernafas dan memunculkan rasa nyeri otot yang teramat sangat karena posisi tersebut sangat tidak nyaman dan menyakitkan.

Artikel diatas Dibuat hanya sebagai referensi tambahan atas nama ilmu pengetahuan, yang menjadi penentu hanyalah keyakinan kita sebagai orang percaya.
Read more

Temuan Sinagoge Di Zaman Yesus Kristus Biasa Berkhotbah

Sebagian orang mungkin menyebutnya kebetulan atau keberuntungan. Tapi bagi Pendeta Eamon Kelly di Israel, temuan sinagoge di zaman Yesus biasa berkhotbah adalah pertanda.

Ketika organisasi Katoliknya, Legiun Yesus, membawa sekeping tanah dari wilayah sebelah barat Laut Galilee tak ada yang tahu apa yang kemudian mereka temukan.

Saat berpikir tentang Yesus, orang biasanya langsung tertuju pada Betlehem atau Yerusalem, kata Kelly. Tapi Yesus menghabiskan hampir seluruh hidupnya di wilayah yang kini ada sebelah utara Israel.

"Delapan puluh persen hidup Yesus ada di sini," kata pendeta asal Irlandia itu merujuk pada kawasan Galilee, seperti dilansir koran the Times of Israel..

Pernyataan Kelly itu berdasarkan temuan dari reruntuhan Kota kuno Magdala, diambil dari nama pengikut Yesus paling dekat, Maria Magdalena. 

Ketika arkeolog dan sukarelawan menggali di kawasan itu mereka menemukan sebuah sinagoge di abad pertama Masehi, satu dari tujuh sinagoge di Israel dan di seluruh dunia.

"Ini sinagoge pertama tempat Yesus sering berkhotbah yang ditemukan di Israel," kata dia. Temuan ini sangat penting bagi umat Kristen dan Yahudi.

Sejumlah ahli mengatakan kemungkinan besar Yesus sering berkhotbah di sebuah sinagoge yang baru ditemukan itu. Bentuk sinagoge yang sederhana itu kemudian direnovasi menjadi bangunan yang lebih baik pada tahun 40 Masehi.
Read more

Arkeolog Menemukan Tempat Yesus Kristus Berdiri Saat Diadili Sebelum Disalib

Para arkeolog di Yerusalem menemukan tempat Yesus berdiri saat diadili sebelum disalib oleh tentara Romawi. Di situs yang ditemukan sekitar 15 tahun lalu itu terdapat sisa-sisa istana Raja Herodes Agung.

Semuanya berawal ketika pemerintah Israel berencana memperluas Museum Menara Daud. Tetapi sejarah berputar aneh, ketika mereka justru menemukan struktur purba di bawah sebuah bangunan tua yang berdampingan dengan museum di Kota Tua Yerusalem itu.

Di masa Ottoman dam kemudian kolonial Inggris, bangunan itu digunakan sebagai penjara. Tetapi ketika para arkeolog menggali lebih dalam, mereka menemukan sebuah struktur mirip istana yang mereka duga sangat bernilai penting dalam sejarah kekristenan: tempat Yesus diadili.

Kini, seperti yang diberitakan The Washington Post, Senin (5/1/2015), setelah bertahun-tahun penggalian dan penundaan akibat peang dan kekurangan dana, para arkeolog berkesempatan memamerkan temuan itu ke publik.

"Penjara ini adalah bagian penting dari teka-teki purba Yerusalem dan menunjukkan sejarah kota ini dalam cara yang unik nan jelas," kata Amit Re'em, arkeolog distrik Yerusalem, yang memimpin penelitian itu sejak sedekade silam.

Bagi Re'em, bangunan itu punya nilai sejarah penting. Mulai dari simbol-simbol yang diukir di tembok penjara oleh para tahanan kelompok perlawanan Yahudi yang ingin mendirikan negara Israel pada 1940an, tekstil kuno dari era Perang Salib, dan fondasi tembok-tembok serta sistem pembuangan air yang diduga dibangun oleh Herodes Agung, Raja Yudea yang berkuasa di bawah Kekaisaran Romawi.

Tetapi bagi lebih dari sejuta peziarah Kristen yang mengunjungi Yerusalem setiap tahun, situs purba itu juga penting karena diduga menjadi salah satu tempat penting dari kehidupa Yesus.

"Bagi orang Kristen yang mementingkan akurasi sejarah, ini sangat menggetarkan," kata Yisca Harani, pakar kekristenan dan ziarah di Tanah Suci.

Dewasa ini banyak peziarah Kristen yang meniti kembali Jalan Salib, sebuah perjalanan doa yang melewati jalan-jalan yang diyakini sebagai jalan Yesus dari saat dia diadili dan dihukum mati oleh penguasa Romawi, Pontius Pilatus sampai dia disalib, dan dimakamkan.

Menurut Harani karena para peziarah sudah mulai melakoni jalan itu selama berabad-abad lalu, rute yang juga dinamai Via Dolorosa itu sudah berubah berkali-kali, tergantung paa pihak yang menguasai Yerusalem.

Pada masa Bizantium Via Dolorosa dimulai dari lokasi di dekat situs Istana Herodes itu kini ditemukan. Tetapi mulai pada abad 13, perjalanan itu dimulai dari Benteng Antonia, bekas barak militer Romawi, yang kini berada di dekat Masjid Al Aqsa.

Perdebatan tentang awal Jalan Salib Yesus terus berlangsung di antara para pemimpin spritual Kristen, sejarahwan, dan arkeolog. Pertanyaan tentang lokasi Yesus diadili pertama kali berakar pada berbagai interpretasi terhadap Injil, yang menuliskan bahwa Yesus dibawa ke hadapan Pilatus di praetorium, istilah bahasa Latin untuk tenda kediaman jenderal Romawi. 

Beberapa pihak mengatakan bahwa praetorium Pilatus berada di barak militer Romawi, tetapi yang lain mengatakan Pilatus adalah tinggal di sebuah istana yang dibangun oleh Herodes.

Kini para sejarahwan yakin bahwa Istana Herodes terletak di bagian barat kota Yerusalem, tepatnya dekat Museum Menara Daud dan penjara Ottoman itu.

Menurut Shimon Gibson, profesor arkeologi pada Universitas North Carolina di Amerika Serikat, pengadilan terhadap Yesus berlangsung di satu tempat, di dekat Istana Herodes. Ia mengacu pada Injil Yohanes, yang menyebutkan bahwa pengadilan Yesus berlangsung di dekat sebuah gerbang dan di atas lantai berbatu-batu kasar. Gambaran itu cocok dengan temuan arkeologi di dekat penjara Ottoman itu.

Sementara David Pileggi, pemimpin Gereja Kristus, sebuah konggregasi Anglikan yang bermarkas di dekat museum tersebut, mengatakan bahwa temuan di dalam penjara Ottoman itu memastikan "apa yang selama ini diduga oleh semua orang, bahwa pengadilan Yesus berlangsung di dekat Menara Daud".
Read more

Ditemukan, Jimat Dari Fragmen Papirus Kuno 'Perjamuan Terakhir'

Fragmen papirus tentang Perjanjian Terakhir

Fragmen papirus Yunani berusia 1.500 tahun, dengan tulisan yang merujuk pada peristiwa 'Last Supper' atau 'Perjamuan Terakhir' dan 'manna dari surga' baru-baru ini ditemukan. Diduga menjadi salah satu jimat Kristen tertua. 

Fragmen tersebut diperkirakan dilipat dan dimasukkan dalam liontin, digunakan sebagai jimat pelindung. Demikian ujar Roberta Mazza, yang menemukannya saat memeriksa ribuan papirus yang disimpan di lemari besi perpustakaan John Rylands Research Institute di University of Manchester, Inggris. 

"Ini adalah temuan penting dan sama sekali tak terduga," kata dia, seperti dikutip dari situs sains LiveScience, Sabtu (6/9/2014). "Jimat pertama yang ditemukan yang merujuk pada Ekaristi -- Perjamuan Terakhir -- sebagai manna dari Perjanjian Lama." Fragmen tersebut diduga berasal dari sebuah kota di Mesir. 

Teks dalam papirus itu berisi campuran ayat dari Mazmur 78: 23-24 dan Matius 26: 28-30.

"Hingga saat ini, umat Kristiani menggunakan ayat dalam Injil sebagai jimat pelindung. Namun, jimat yang kami temukan menandai awal tren penting dalam masyarakat Nasrani," kata Mazza. 

Dia menambahkan, orang-orang di kala itu meyakini, ayat-ayat seperti itu memiliki kekuatan ajaib. Sesuai dengan gagasan tersebut, lipatan yang bisa dilihat pada fragmen menunjukkan, papirus tersebut dilipat hingga menjadi bentuk persegi panjang dengan ukuran 3 x 10,5 inchi. Bisa dimasukkan dalam kotak di rumah atau dikalungkan di leher seseorang. 

Menariknya, jimat tersebut ditulis di bagian belakang tanda terima yang tampaknya untuk pembayaran pajak gandum. Teks yang nyaris tak bisa dibaca itu mengacu pada pengumpulan pajak dari desa di Tertembuthis yang terletak di Hermoupolis -- kota kuno yang kini menjadi el-Ashmunein di era Mesir modern. 

"Teks tersebut mengungkapkan bahwa tanda terima dikeluarkan di desa Tertembuthis. Dari situ kita bisa menebak bahwa orang yang menggunakan kembali bagian belakangnya untuk menulis jimat berasal dari desa yang sama atau wilayah di dekatnya, meskipun kami tak bisa mengesampingkan hipotesis lain. 

Analisis karbon dari fragmen menunjukkan, jimat tersebut berasal dari masa antara 574 hingga 660 Masehi. "Beberapa kata salah tulis atau susunannya salah," kata Mazza. "Menunjukkan bahwa penulisnya menuliskannya dari hati atau ingatan, alih-alih menyalinnya." 

Penemuan yang dipresentasikan Mazza dalam konferensi internasional terkait papirus mengungkap bahwa, pemeluk Kristen saat itu mengadopsi praktik Mesir kuno menggunakan jimat semacam itu untuk mencegah bahaya. 

"Praktik tersebut tak jauh dari kebiasaan saat ini -- mengenakan kalung salib atau gambaran Yesus, Bunda Maria, atau para santo sebagai perlindungan," kata Mazza. "

Temuan tersebut akan dijelaskan secara detail dalam jurnal Zeitschrift fur Papyrologie und Epigraphik.

Read more

Artefak Kuno 'Yesus Kristus Tanpa Janggut' Ditemukan di Spanyol

Artefak penggambaran Yesus dari Abad ke-4 Masehi

Para arkeolog di Spanyol menemukan sebuah artefak menarik dari Abad ke-4 Masehi: sebuah piring kaca yang mengandung salah satu penggambaran tertua citra diri Yesus. 

Piring berdiameter 22 cm dan tinggi sekitar 4 cm itu diyakini di masa lalu digunakan untuk meletakkan roti Ekaristi -- roti yang digunakan dalam ritual. Obyek tersebut diekskavasi dari situs di Kota Linares, di Spanyol selatan. Demikian dilaporkan harian ABC Spanyolseperti dikutip dari BBC, Sabtu (4/10/2014). 

Para arkeolog yang bekerja dalam proyek FORVM MMX, menemukannya di dalam bekas bangunan peribadatan di antara puing kota kuno Castulo. 

"Temuan tersebut memberi jalan pada para ilmuwan untuk meninjau kronologi Kekristenan awal di Spanyol", kata direktur proyek FORVM MMX Marcelo Castro kepada harian El Mundo. 

Dahulu kala di Spanyol, pada Abad ke-2 dan ke-3 Masehi, agama Kristen dianggap ilegal dan penganutnya akan dihukum. 

Potongan-potongan piring yang ditemukan masih dalam kondisi relatif baik. Sekitar 81 persen bagiannya kini telah disatukan oleh para ahli.

Gambar pada piring tersebut menunjukkan Yesus diapit 2 rasul, diyakini sebagai Petrus dan Paulus. "Penggambaran adegannya di lingkaran mirip bola langit, dibingkai pohon palem yang dalam ikonografi Kristen mewakili keabadian, akhirat dan surga," demikian ditulis ABC Spanyol. 

Sementara, El Mundo menggarisbawahi bahwa penampilan Yesus dalam gambar tersebut berbeda dengan penggambaran awam yang bertahan hingga saat ini: tak berjanggut, rambutnya tidak panjang, dan ia mengenakan jubah ala filsuf.
Read more

Perjamuan Terakhir Yesus Kristus Bersama Muridnya Dilakukan Dengan Lesehan

"Waktu itu di Palestina, makanan ditaruh di atas meja rendah dan tamu duduk di lantai, di atas bantalan atau karpet."


Perjamuan terakhir seperti dilukiskan oleh Leonardo Da Vinci. Penelitian terbaru mengungkap bahwa ilustrasi perjamuan terakhir dalam lukisan Da Vinci tersebut kurang tepat.

Alkitab mendeskripsikan yang terjadi dalam perjamuan terakhir Yesus dengan para rasul namun tidak menguraikan detail tentang menu makanan dan tata cara pertemuan tersebut.

Meneliti naskah serta karya seni yang mendeskripsikan masa awal Kristiani, arkeolog Generoso Urciuoli dari Petrie Center di Italia dan pakar sejarah Mesir Marta Berogno dari Museum Turin mencoba menguraikan detail perjamuan terakhir.

Lukisan Leonardo Da Vinci menunjukkan bahwa perjamuan terakhir dilakukan di tengah ruangan menggunakan meja makan berbentuk persegi panjang. Yesus dan para rasul duduk di kursi memakan roti dan anggur dengan piring-piring keramik.

Hasil kajian Urciuoli dan Berogno, didasarkan pada data sejarah dan karya seni abad ke-3 Masehi, mengungkap bahwa gambaran perjamuan terakhir seperti yang dilukiskan Da Vinci kurang tepat.

"Waktu itu di Palestina, makanan ditaruh di atas meja rendah dan tamu duduk di lantai, di atas bantalan atau karpet," kata Urciuoli kepada Discovery, Kamis (2/4). Jadi, perjamuan terakhir dilakukan dengan cara lesehan.

Piring, mangkuk, dan guci terbuat dari batu, bukan keramik. Itu didasarkan pada temuan arkeologi yang mengungkap banyaknya alat-alat berbahan batu di Galiela dan Jerusalem dari abad pertama Masehi.

Dalam perjamuan itu, Yesus duduk di tengah. Sedangkan Yudas kemungkinan duduk di sebelah kiri Yesus. Itu didasarkan pada ayat Alkitab yang mengatakan bahwa Yudas meletakkan roti pada piring Yesus.

Sementara, dengan mempelajari makanan dalam pernikahan di Kanaan tempat Yesus melakukan mukjizat pertamanya serta waktu perjamuan terakhir yang diduga bertepatan dengan hari raya "Roti Tak Beragi" dan Passover, ilmuwan berhasil menguak menu makanan Yesus.

Selain roti dan anggur, Yesus diperkirakan juga memakan cholent (makanan yang terbuat dari biji-bijian yang dimasak lambat), zaitun dengan hisop (herbal dengan rasa mint), serta charoset (buah dengan pasta kacang), serta herbal pahit.

"Herbal pahit biasa dimakan saat Passover, cholent dimakan ketika perayaan, dan hisop adalah konsumsi harian," kata Urciuolus. Makanan lain yang dikonsumsi saat perjamuan terakhir diperkirakan adalah daging domba dan tzir, semacam saus ikan.
Read more

4/05/2015

Arkeolog Temukan Tulang Yohanes Pembaptis


Ahli Arkeolog Bulgaria mengklaim telah menemukan tulang Yohanes Pembaptis di tengah reruntuhan sebuah biara kuno. Tapi penanggalan karbon tes yang dilakukan di Universitas Oxford telah memberikan bukti ilmiah untuk mendukung klaim luar biasa tersebut. Tulang buku jari A yang tertanggal Sebelum Masehi abad pertama ketika saat nabi Yahudi dihormati itu diyakini hidup.

Para peneliti 'terkejut' ketika mereka menemukan tulang yang sangat tua dan tinggal sisa-sisanya saja, tetapi bukti sekarang tidak bisa membuktikan itu adalah tulang Yohanes Pembaptis. 

Sisa-sisa fragmen kecil dari tengkorak, tulang dari rahang dan lengan, dan gigi telah ditemukan dua tahun lalu tertanam dalam sebuah mezbah di reruntuhan biara kuno, di sebuah pulau di Laut Hita

Mereka menyimpannya di dalam sebuah wadah relikwi - wadah untuk relik suci - pada Sveti Ivan, Sozopol di pantai selatan Bulgaria.

'kunci' petunjuk peninggalan 'asal-usul sebuah kotak batu pasir kecil yang ditemukan di samping wadah relikwi dengan tulisan Yunani:' Allah, kecuali hambamu Thomas. Untuk St John. 24 Juni. "Tanggal itu diyakini ulang tahun Yohanes Pembaptis.

profesor oxford Thomas Higham dan Christopher Ramsey berusaha untuk memastikan umur radio karbon empat dari tulang manusia, tetapi hanya satu dari mereka bisa diberi tanggal dengan sukses.

Profesor Higham mengatakan, "Kami terkejut ketika radio karbon diproduksi ini usia yang sangat dini. Kami telah menduga bahwa tulang mungkin lebih baru dari ini, mungkin dari abad ketiga atau keempat.

'Namun, hasil dari tulang metakarpal tangan jelas konsisten dengan seseorang yang hidup pada abad awal pertama. Apakah orang itu adalah Yohanes Pembaptis adalah pertanyaan yang kita belum bisa pasti menjawab dan mungkin tidak akan pernah. '

Tes DNA di University of Copenhagen pada tiga tulang dikonfirmasi mereka berasal dari orang yang sama dan mungkin dari seseorang asal Timur Tengah - di mana Yohanes Pembaptis berasal.

Dr Hannes Schroeder, yang melakukan penelitian, mengatakan: "Tentu saja, ini tidak membuktikan bahwa ini adalah sisa-sisa Yohanes Pembaptis tetapi juga tidak membantah teori itu."

Satu teori adalah bahwa orang yang disebut sebagai Thomas dalam prasasti itu diberi tugas membawa relik ke biara pulau.

Bulgaria peneliti percaya bahwa tulang mungkin datang ke Bulgaria melalui Antiokhia, sebuah kota Turki kuno, di mana tangan kanan St John dijaga sampai abad kesepuluh.

Banyak negara di seluruh klaim Mediterania memiliki sisa-sisa St John, termasuk Turki, Montenegro, Yunani, Italia dan Mesir.

Menurut Alkitab ia adalah sepupu Yesus dan orang suci yang dihormati dibaptis sebagai anak Tuhan.

Dia dikatakan telah meramalkan kedatangan Kristus sebelum dipenggal atas perintah Raja Herodes, dengan kepalanya disajikan di piring.
Read more

Kampung Halaman Abraham Ditemukan


Menarik, para arkeolog baru-baru ini menemukan sebuah kompleks bangunan dekat kota kuno Ur di Irak selatan, yang menjadi tempat tinggal dari Abraham.

Struktur itu diduga menjadi pusat pemerintahan Ur sekitar 4.000 tahun lalu. Menurut Alkitab, masa itu Abraham tinggal di sana sebelum berangkat menuju Kanaan.

Kompleks itu dekat lokasi Ziggurat yang sedang direkonstruksi, atau kuil Sumeria, kata Stuart Campbell dari Departemen Arkeologi Universitas Manchester, yang memimpin penggalian.

"Ini adalah penemuan yang menakjubkan," kata Campbell, Kamis, 4 April 2012. Kompleks itu begitu luas, sekitar ukuran lapangan sepak bola atau sekitar 80 meter di setiap sisi. Para arkeolog mengatakan kompleks seukuran dan seusia itu merupakan hal yang langka.

"Tampaknya itu adalah semacam bangunan publik. Ini mungkin merupakan gedung administrasi, mungkin memiliki hubungan agama atau pengawasan barang ke kota Ur," katanya kepada The Associated Press.

Kompleks ruangan di sekitar halaman besar itu ditemukan 20 kilometer dari Ur, ibu kota terakhir dari dinasti kerajaan Sumeria yang peradabannya berkembang 5.000 tahun yang lalu.

Artefak ditemukan di situs purbakala dekat rumah Nabi Ibrahim.Campbell mengatakan salah satu artefak yang mereka temukan adalah sebuah plakat liat berukuran 9 sentimeter yang menunjukkan seseorang mengenakan jubah panjang mendekati tempat suci.

"Selain artefak, situs itu dapat mengungkapkan kondisi lingkungan dan perekonomian daerah itu melalui analisis sisa-sisa tanaman dan hewan," ujar tim arkeologi.

Penggalian dimulai bulan lalu ketika satu tim Inggris beranggotakan enam orang bekerja sama dengan empat arkeolog Irak memelakukan penggalian di Tell Khaiber, provinsi Thi Qar, sekitar 320 kilometer di selatan Baghdad.

Tim Campbell adalah penggalian arkeologi tim Inggris pertama di Irak selatan sejak tahun 80-an. Penggalian itu juga diarahkan oleh Dr Jane Moon dari Manchester University dan arkeolog independen Robert Killick.

Dekade perang dan kekerasan telah membuat arkeolog internasional menjauh dari Irak, yang menjadi lokasi banyak situs arkeologi yang belum tereksplorasi. Namun, penggalian itu menunjukkan bahwa misi kolaboratif tersebut masih mungkin dilakukan di beberapa bagian Irak yang relatif stabil, seperti yang didominasi Syiah di selatan.

Penemuan-penemuan tersebut semakin mengungkap sejarah manusia berabad lalu, ketika paganisme masih dianut sekian banyak orang, ketika kitab-kitab suci belum lahir di muka bumi.
Read more

Alkitab Berusia 700 Tahun Ditemukan


Sebuah kamus Alkitab berumur 700 tahun yang telah memberikan wawasan unik bagi kehidupan biarawati pada saat itu dipamerkan untuk yang pertama kalinya. The Expositiones Vocabulorum Bible karya Pendeta William Brito pada abad ke 12 yang juga dikenal dengan Guillaume le Breton seluruhnya ditulis dalam bahasa latin. 

Ini adalah merupakan sebuah dokumen monastik yang selamat dari kejadian pembubaran biara-biara dibawah pemerintahan King Henry VIII pada tahun 1530, dimana sang raja membubarkan semua biara prioritas di inggris, wales dan irlandia yang juga merampas semua aset-aset biara tersebut. Kamus perkamen ini ini ditulis tangan dan diperkirakan telah membantu para biarawati untuk menterjemahkan tentang Alkitab dan juga berisi penjelasan tentang asal usul kata sulit di dalamnya. 

Kamus tersebut saat ini sedang dipamerkan di Lacock Abbey, Wiltshire dimana mayoritas para biarawati di Inggris tinggal setelah beberapa waktu lalu dibeli oleh National Trust. Sonia Jones manager rumah koleksi Lacock mengatakan kamus abad ke 12 ini sangat membantu para biarawati untuk menambah wawasan tentang kehidupan di biara pada saat itu. “kami Cuma mengetahui sedikit tentang kehidupan sehari-hari para biarawati yang hidup di Lacock Abbey, dan kamus ini memberikan banyak pengetahuan pandangan tentang kehidupan mereka disana yang luar biasa, pandangan tentang cara hidup mereka dan kisah-kisah lainya. “ini adalah buku yang khusus dan sangat penting, tetapi untuk memilikinya di Lacock dan dapat meletakanya di layar khusus di biara di rumah aslinya hanya ternilai harganya saja.

Read more

3/26/2015

Kerangka Manusia 6.500 Tahun Diduga Nabi Nuh?



Pegawai Penn Museum, Philadelphia menemukan sebuah kotak berisi kerangka manusia berusia 6.500 tahun. Diketahui kotak tersebut telah tersimpan 85 tahun tanpa ada yang tahu isi dalamnya. Kotak kayu tersebut terselip di gudang penyimpaanan, tanpa keterangan nomor identifikasi atau kartu katalog. Satu-satunya cara yang kini digunakan adalah pemindaian secara digital. 


Kerangka manusia dalam kotak itu digali dari kota kuno Ur (sekitar Irak), antara 1929 dan 1930, oleh Sir Leonard Woolley beserta timnya di Penn Museum. Woolley terkenal dengan penggaliannya yang menyingkap makam bangsawan Mesopotamia, yang terdiri dari ratusan makam dan 16 tombsladen yang dijadikan artefak budaya. Selain itu, tim arkeolog itu juga menemukan pemakaman kuno yang berusia sekitar 2.000 tahun. Saat itu Woolley mengangkat satu kerangka dari situs tersebut, ia kemudian melapisinya dengan lilin yang lalu ia kirimkan dalam sebuah kotak kayu ke London, lalu ke Philadelphia. Teknik ilmiah yang digunakan Wolley pada masanya masih sangat terbatas. Namun dengan teknik ilmiah modern ilmuwan bisa mendapatkan lebih banyak informasi tentang sisa-sisa kuno, termasuk pola makan, asal leluhur, trauma, stres dan penyakit. Penelitian lebih lanjut pada database museum mengungkapkan kerangka tak dikenal itu dicatat sebagai 'not accounted for' pada 1990. William Hafford, manajer Penn Museum memutuskan menemui Janet Monge, kurator antropologi fisik Penn Museum. Namun Monge juga sama takjubnya, ia juga belum melihat kerangka seperti itu sebelumnya. 


Kerangka misterius itu kemungkinan seorang laki-laki berusia 50 tahun atau lebih. Dia memiliki tinggi antara 5 kaki 8 inci (173 cm) sampai 5 kaki 10 inci (178 cm). Oleh peneliti Penn Museum kerangka tersebut dijuluki 'Noah', karena diyakini hidup setelah banjir besar yang terjadi di Ur, seperti kisah Nabi Nuh.



Read more

Yesus Kristus Lahir Bulan Juni?

Seorang astronom Australia, Yesus Kristus bukan lahir pada tanggal 25 Desember, seperti yang dirayakan sekarang. Tapi 17 Juni. Astronom Australia, David Reneke memprediksi kelahiran Yesus Kristus bukan jatuh pada tanggal 25 Desember, seperti yang dirayakan umat Kristiani sedunia seperti sekarang ini.

Seperti dilansir Telegraph, Kamis lalu, Reneke mengungkapkan jika ditilik dari peristiwa ‘bintang terang natal’ di Betlehem 2000 tahun silam, seharusnya Natal jatuh pada tanggal 17 Juni. Bintang terang natal itulah yang dikisahkan dalam tradisi Kristiani menuntun tiga orang majus pada bayi Yesus Kristus untuk mempersembahkan, mur emas, dan kemenyan.

Penelitian yang dilakukan oleh astronom mengasumsikan, bintang terang natal atau lebih dikenal bintang Betlehem yang terlihat di langit, merupakan kombinasi planet Venus dan Jupiter. Ketika itu, kedua planet berada pada posisi terdekat dan menjadikannya lebih bersinar terang dari biasanya.

Dave Reneke menggunakan sebuah program komputer yang sangat kompleks dan rumit untuk memastikan posisi langit pada malam kelahiran Yesus di Betlehem 2000 tahun silam. Reneke mengakui, kondisi astronomi di malam kelahiran Yesus dinilai sangat spektakuler dalam bidang astronomi.

“Kami memang memiliki software yang dapat memetakan ulang kondisi langit malam hari di setiap waktu hingga beberapa ribu tahun silam, dan kami menggunakannya untuk melihat kembali ke waktu kelahiran Yesus,” kata Reneke, yang juga seorang pengajar ilmu astronomi dan editor majalah Sky and Space.

Reneke juga mengungkapkan, Venus dan Jupiter berada sangat dekat di sekira tahun dua sebelum masehi. Kondisi itulah yang menghadirkan ‘bintang Betlehem’ menjadi terlihat sangat terang.

Selain pengamatan astronomi, Reneke dan timnya juga melakukan penelusuran menggunakan injil Matius. Kisah kelahiran Yesus menurut injil Matius dijadikan sebagai referensi untuk mengetahui peristiwa Natal.

Jika penelitian itu dapat dipertanggungjawabkan, maka dengan demikian Yesus berzodiak Gemini, dan bukan Capricornus seperti yang selama ini diyakini.

Kendati demikian, Reneke mengatakan, bintang tersebut tidak pasti ‘bintang Betlehem’ tapi setidaknya dapat menjadi penjelasan kuat mengenai itu karena tidak ada penjelasan sebelumnya yang mengungkapkan hal itu.

“Tak ada penjelasan yang pasti dan mendekati mengenai kejadian itu, dan ini adalah penjelasan mengenai tanda bintang yang digunakan tiga orang majus,” katanya.
Selain itu, Reneke mengatakan ia dan timnya tidak mencoba untuk menghina suatu agama. Tapi, penelitian itu dapat menunjukkan memang ada obyek bercahaya terang 2000 tahun silam.

“Meskipun kita sering mempertentangan ilmu dan agama yang sering mengecewakan orang. Tapi dalam kasus ini, saya kira justru dapat memperkuat keimanan dan keyakinan seseorang,” kata Reneke.

Sebagaimana diketahui, dari sudut sejarah tak ada tanggal paling pasti tentang kelahiran Yesus, namun perayaan Natal per 25 Desember sudah menjadi tradisi Kristen berabad-abad. Andaikan temuan ini benar, boleh jadi akan ada perubahan besar dalam perayaan Hari Natal, dan semuanya kembali kepada pribadi masing-masing dalam menghadapi berbagai pemberitaan yang ada sebagai pelajaran untuk meneguhkan iman kita sebagai orang percaya.
Read more

3/25/2015

Tempat Yesus Kristus Memberi Makan 5 Ribu Orang Ditemukan



Sebuah kota yang berusia lebih dari 2.000 tahun telah ditemukan di barat laut pantai Laut Galilea, tepatnya di Lembah Ginosar, Israel. 

Kota kuno yang diduga sebagai Dalmanutha itu digambarkan dalam Injil Markus sebagai tempat Yesus mendarat setelah dia memberikan makan kepada 5 ribu orang dengan menggunakan lima roti dan dua ikan. 

Hal itu diungkapkan oleh Ken Dark dari University of Reading, Inggris, pemimpin tim yang melakukan survei lapangan ke kota kuno itu. 

Arkeolog juga menduga sebuah perahu kenamaan yang berusia sekitar 2.000 tahun dan ditemukan tahun 1986, ditemukan di garis pantai kota yang baru ditemukan itu. 

Bukti yang ditemukan oleh tim itu menunjukkan bahwa kota itu sangat sejahtera di masa lalu. 

“Kami menemukan gelas dan perlengkapan rumah tangga mewah,” tulis Dark dalam artikel yang diterbitkan dalam edisi terbaru Palestine Exploration Quarterly. 

Peninggalan arsitektur dan tembikar yang ada menunjukkan bahwa warga Yahudi dan penganut politeisme tinggal dalam damai dalam sebuah komunitas di kota tersebut. 

Selain itu, para arkeolog menemukan bahwa perbatasan selatan kota itu berjarak 150 meter dari sebuah kota kuno lain yang dikenal sebagai Magdala.
Read more

Dua Paku Salib Yesus Kristus Ditemukan?



Dua paku yang digunakan untuk menyalib Yesus ditemukan di sebuah makam berusia 2.000 tahun. Hal tersebut terungkap dalam sebuah film baru bertajuk The Nails of the Cross karya sutradara Simcha Jacobovici.

Film itu merupakan hasil penelitian tiga tahun yang dilakukan Jacobovici. Kesimpulan itu dibuahkan Jacobovici berdasarkan data-data empiris dan imajinasi serta kepercayaannya.

Jacobovici mengklaim penemuan tersebut sebagai sesuatu yang bersejarah. Namun sebagian ilmuwan menepis klaim Jacobovici. Beberapa ilmuwan bahkan menganggap itu hanya upaya mencari popularitas.

Berbagai benda bersejarah termasuk paku-paku yang diklaim berasal dari penyaliban Yesus muncul dalam beberapa dekade terakhir. Paku-paku tersebut diduga memiliki keterkaitan dengan Yesus. Namun, beberapa dianggap tipuan, sementara sebagian lainnya dianggap sebagai penemuan suci.

Jacobovici dalam film sebelumnya sempat mengklaim menemukan makam Yesus yang hilang. Kini, Jacobovici mengatakan penemuan paku yang dipakai untuk menyalib Yesus berbeda dengan paku-paku sebelumnya karena konteks sejarah dan arkeologis yang ada di dalamnya.

“Yang kami ungkapkan ke dunia adalah argumen arkeologi terbaik yang disuguhkan bahwa dua dari paku-paku salib Yesus telah ditemukan,” ujarnya. 

Film itu sendiri diawali dengan kisah kunjungan ke sebuah makam purba di Yerusalem pada 1990. Para ilmuwan menilai itu merupakan makam pendeta Yahudi tertinggi Caiaphas, yang dalam Perjanjian Baru mendahului persidangan Yesus.

Makam itu beserta kotak tulang ditemukan saat sebuah proyek konstruksi di dekat bukit beberapa mil sebelah selatan Kota Lama. Makam itu kini sudah ditutup kembali.

Caiaphas adalah tokoh besar di dalam Gospels. Ia mengirim Yesus ke Romawi. Salah satu kesimpulan Jacobovici adalah Caiaphas merupakan pendeta tinggi yang tidak terlalu jahat.

Dua paku besi ditemukan di dalam makam itu. Satu paku ditemukan di dasar dan satu lagi di dalam sebuah kuburan yang hilang secara misterius. Jacobovici mengaku melacak paku itu sampai ke sebuah laboratorium di Tel Aviv. 

Jacobovici juga menunjukkan mengapa paku tersebut digunakan dalam salib, yang memang lazim 2.000 tahun lalu. Jacobovici mengajukan teori mengenai penyebab paku-paku itu digunakan di penyaliban Yesus.

“Jika Anda melihat seluruh ceritanya, secara historic, tekstual, arkeologis, semua menunjuk ke dua paku ini dipakai dalam penyaliban,” ujar Jacobovici. “Dan karena Caiaphas merupakan satu-satunya yang diasosiasikan dengan penyaliban Yesus, Anda menaruh dua (paku) dan dua (paku) bersama, itu menunjukkan paku-paku itu adalah paku yang digunakan untuk menyalib Yesus.”

Menanggapi film itu, Otoritas Benda-benda Antik Israel mengatakan belum ada pembuktian yang sahih bahwa makam itu merupakan tempat mengubur Caiaphas. Mereka juga mengatakan paku-paku biasa ditemukan di makam.

“Tidak dapat diragukan lagi bahwa sutradara berbakat Simcha Jacobovici membuat film menarik dengan penemuan arkeolog sebagai pusat cerita. Tetapi tafsiran yang disuguhkan tidak memiliki dasar dalam penemuan atau penelitian arkeologi,” ujar Otoritas Benda-benda Antik Israel.
Read more

Hasil Test Darah Mulia Yesus Kristus

Pada tgl 8 September 2003, seorang ilmuwan berkunjung untuk berjumpa dengan Profesor Jung Bin Lee di Universitas Nasional, Seoul. Prof Lee yang juga seorang dokter umum, adalah pemegang otoritas tertinggi di Korea di dalam bidang forensik di kedokteran. Ia bukan seorang yang beragama Katholik, tetapi telah menguji tes darah dari Naju selama beberapa tahun yang lalu. 

Profesor Lee pada mulanya sedikit enggan, tetapi, setelah ia melanjutkan penyelidikannya dan melihat hasil yang sama dan sama lagi dengan tambahan test yang berulang-ulang, ia menjadi tertarik lebih serius lagi. Profesor Lee dan timnya menguji lebih dari sepuluh batu-batu kecil yang terdapat noda darah dari Bukit Bunda Yang Terberkati secara berkala. Ia mengatakan bahwa masing-masing contoh diuji sedikitnya 5 kali, membuat total jumlah test lebih dari lima puluh kali. Ia mengeluarkan suatu pernyataan dan berkesaksian bahwa noda darah yang terdapat pada semua batu karang ini kecuali dua dari batu tersebut adalah darah manusia berkelamin lelaki dan bahwa tiap-tiap test pada darah tersebut menunjukkan struktur DNA yang serupa dan tipe darahnya adalah AB. 

Darah jenis golongan AB pada Tuhan Kita Yesus Kristus mengkonfirmasikan hasil yang sama di Lanciano, dimana mujizat Ekaristi terjadi sekitar 1300 tahun yang lalu dan juga di test secara ilmiah yang yang berakhir pada awal tahun 1970-an. Noda-noda darah pada dua contoh batu karang yang ditemukan itu ternyata merupakan contoh darah manusia berjenis kelamin wanita dengan DNA struktur dan darah jenis serupa, yaitu B(yang jelas merupakan genetik darah BO). 

Ini mungkin menjadi pertama kali dalam sejarah bahwa type darah Bunda Yang Terberkati berhasil di temukan. Sebagai tambahan, lebih dari sepuluh batu karang yang terkena noda darah, Profesor Lee juga menguji secarik potongan kain kasa yang terkena noda darah dari Naju. Pada tgl 2 Juli 1995, Mujizat Ekaristi terjadi di Kapel. Pastor Francis Su dari Malaysia mencelupkan jarinya ke dalam darah yang ada di mulut Julia dan mengelapnya dengan sebuah potongan kain kasa. Profesor Lee mengatakan bahwa temuan-temuannya dari contoh tersebut sama persis dengan contoh darah lelaki yang yang ada di batu karang tersebut. Itu berarti, bahwa pemilik darah yang ditemukan pada delapan tahun yang lalu saat terjadinya Mujizat Ekaristi sama dengan contoh darah lelaki yang ditemukan di Bukit Bunda Yang Terberkati pada November 2001, Januari 2002 dan Agustus 2002.
Read more